
Manado, Juni 2026 – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara menunjukkan bahwa pada Mei 2026 provinsi ini mengalami inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,33 persen, sementara secara bulanan (month-to-month/m-to-m) justru terjadi deflasi 0,61 persen. Secara sekilas, angka ini memberi sinyal positif bahwa laju kenaikan harga mulai terkendali. Namun, jika dicermati lebih dalam, struktur inflasi Sulawesi Utara masih menyimpan sejumlah persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Deflasi Bulanan Belum Tentu Menandakan Harga Sudah Stabil
Deflasi 0,61 persen pada Mei 2026 dapat dianggap sebagai kabar baik bagi konsumen karena menunjukkan adanya penurunan harga dibanding bulan sebelumnya. Namun, masyarakat tidak serta-merta merasakan harga kebutuhan pokok menjadi murah.
Fakta bahwa inflasi tahunan masih berada di level 2,33 persen menunjukkan harga barang dan jasa secara umum tetap lebih tinggi dibandingkan Mei 2025. Dengan kata lain, deflasi yang terjadi lebih mencerminkan koreksi harga jangka pendek daripada penurunan biaya hidup secara menyeluruh.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya terserap untuk kebutuhan dasar.
Makanan dan Jasa Menjadi Sumber Utama Inflasi
Data andil inflasi menunjukkan kelompok dengan kontribusi terbesar adalah:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 0,59 persen
- Transportasi: 0,54 persen
- Makanan, minuman, dan tembakau: 0,51 persen
- Pendidikan: 0,30 persen
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya dipicu oleh pangan, tetapi juga oleh sektor jasa.
Kelompok makanan masih menjadi penyumbang besar inflasi, menandakan masalah klasik Sulawesi Utara terkait distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta kerentanan terhadap cuaca dan gangguan logistik belum sepenuhnya teratasi.
Sementara itu, tingginya kontribusi transportasi mengindikasikan biaya mobilitas dan distribusi barang masih menjadi faktor pendorong harga. Dalam wilayah kepulauan seperti Sulawesi Utara, mahalnya biaya transportasi berpotensi menciptakan efek berantai terhadap harga berbagai komoditas.
Ketergantungan pada Faktor Musiman Masih Tinggi
Grafik inflasi tahunan memperlihatkan fluktuasi yang cukup tajam selama setahun terakhir. Inflasi sempat melonjak hingga 4,64 persen pada Februari 2026, sebelum turun menjadi 2,20 persen pada Maret dan kembali berada di 2,33 persen pada Mei.
Pergerakan yang naik-turun ini menunjukkan bahwa stabilitas harga di Sulawesi Utara masih sangat dipengaruhi faktor musiman dan gangguan pasokan. Ketika terjadi kenaikan permintaan atau hambatan distribusi, inflasi dengan cepat meningkat. Sebaliknya, ketika pasokan membaik, inflasi langsung melandai.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pengendalian inflasi belum sepenuhnya ditopang oleh penguatan struktur ekonomi daerah, melainkan masih bergantung pada kondisi pasokan jangka pendek.
Kesenjangan Inflasi Antarwilayah Perlu Diwaspadai
Salah satu temuan penting dalam data BPS adalah adanya perbedaan tingkat inflasi yang cukup lebar antarwilayah.
- Kota Manado: 3,27 persen
- Kabupaten Minahasa Utara: 0,66 persen
Selisih lebih dari dua poin persentase ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak dirasakan secara merata di Sulawesi Utara.
Tingginya inflasi di Manado dapat dipahami karena kota ini merupakan pusat perdagangan dan konsumsi terbesar di provinsi tersebut. Namun, kesenjangan yang terlalu besar juga bisa mengindikasikan adanya perbedaan efisiensi distribusi, struktur pasar, serta tingkat persaingan usaha yang belum optimal.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa sistem logistik dan rantai pasok mampu menjaga stabilitas harga tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di daerah penyangga.
Tantangan Pemerintah Daerah
Meski angka inflasi 2,33 persen masih berada dalam kategori relatif terkendali, terdapat beberapa pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan:
- Memperkuat ketahanan pangan daerah agar tidak terlalu bergantung pada pasokan luar wilayah.
- Menurunkan biaya logistik dan transportasi yang masih menjadi penyumbang utama inflasi.
- Meningkatkan pengawasan harga sektor jasa, terutama perawatan pribadi dan layanan lainnya yang memberikan andil inflasi terbesar.
- Mengurangi disparitas harga antarwilayah melalui perbaikan infrastruktur distribusi.
Kesimpulan
Data Mei 2026 menunjukkan Sulawesi Utara berhasil menjaga inflasi dalam kisaran yang relatif aman, bahkan mencatat deflasi bulanan. Namun, di balik capaian tersebut masih terdapat sejumlah sinyal peringatan: tingginya kontribusi pangan dan transportasi terhadap inflasi, fluktuasi harga yang masih dipengaruhi faktor musiman, serta kesenjangan inflasi antarwilayah yang cukup lebar.
Karena itu, keberhasilan pengendalian inflasi tidak seharusnya diukur hanya dari rendahnya angka inflasi saat ini, tetapi juga dari kemampuan pemerintah membangun sistem ekonomi daerah yang lebih tahan terhadap gejolak pasokan dan biaya distribusi di masa mendatang.
