MANADO — Dinamika politik di tubuh PDI Perjuangan Sulawesi Utara kembali menjadi perhatian.
Di tengah konsolidasi organisasi yang terus dilakukan untuk menghadapi agenda politik mendatang, DPP PDI Perjuangan mengambil keputusan tegas dengan memberhentikan salah satu kader seniornya di Sulawesi Utara, Julius Jems Tuuk.
Keputusan tersebut mengakhiri perjalanan panjang Jems bersama partai berlambang banteng moncong putih yang telah berlangsung hampir empat dekade.
Berdasarkan pemberitaan yang memuat dokumen keputusan partai, pemberhentian Jems tertuang dalam SK DPP PDI Perjuangan Nomor 102/KPTS/DPP/VIII/2026, yang ditandatangani Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada 19 Agustus 2026. Keputusan itu mencabut keanggotaan Jems Tuuk dari PDI Perjuangan.
Hampir Empat Dekade Bersama PDIP
Jems bukan nama baru dalam politik Sulawesi Utara. Ia dikenal sebagai salah satu politisi vokal dan pernah duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari daerah pemilihan Bolaang Mongondow Raya selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024.
Dengan berakhirnya keanggotaannya, perjalanan politik sekitar 39 tahun bersama PDI Perjuangan pun berakhir.
Menanggapi keputusan tersebut, Jems memilih menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara Olly Dondokambey atas kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya selama menjadi bagian dari partai.
Ia juga menegaskan bahwa selama menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Sulut, dirinya berupaya menjaga amanah yang diberikan masyarakat.
Selepas dari parlemen, Jems diketahui masuk dalam lingkaran pemerintahan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus sebagai bagian dari tim khusus atau tim ahli Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
PDIP Sulut Terus Konsolidasi
Dinamika tersebut terjadi ketika PDI Perjuangan Sulawesi Utara tengah menjalankan konsolidasi organisasi secara bertahap.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut Olly Dondokambey sebelumnya meminta jajaran partai menuntaskan proses konsolidasi hingga tingkat bawah.
Konsolidasi dilakukan melalui berbagai Musyawarah Anak Cabang (Musancab) di kabupaten dan kota. Di Kabupaten Minahasa, misalnya, Olly pada Mei lalu meminta proses konsolidasi struktur dapat diselesaikan pada Agustus 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan organisasi menghadapi agenda politik jangka panjang, termasuk Pemilu 2029.
Mesin politik PDIP Sulut bahkan mulai diarahkan lebih awal untuk mempersiapkan kader potensial. Olly sebelumnya menyatakan proses seleksi bakal calon anggota legislatif dan calon kepala daerah akan mulai dilakukan pada 2027.
Dengan langkah tersebut, PDIP Sulut memiliki waktu untuk melakukan penjaringan, evaluasi sekaligus mempersiapkan kader sebelum memasuki tahapan politik berikutnya.
2029 Jadi Ujian Kekuatan PDIP Sulut
Konsolidasi menuju 2029 memiliki arti penting bagi PDI Perjuangan di Sulawesi Utara. Partai tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu kekuatan politik utama di Bumi Nyiur Melambai.
Namun peta politik Sulawesi Utara kini bergerak semakin dinamis. Partai-partai lain juga mulai memanaskan mesin politik jauh sebelum Pemilu 2029.
Gerindra Sulawesi Utara, misalnya, pada awal September mulai memperkuat konsolidasi. Ketua DPD Gerindra Sulut Yulius Selvanus bahkan memasang target politik besar bagi partainya untuk meningkatkan dominasi di Sulawesi Utara.
Kondisi tersebut membuat konsolidasi internal menjadi semakin penting bagi PDIP. Penguatan struktur hingga tingkat PAC dan ranting, regenerasi kader, serta penjaringan calon potensial akan menjadi bagian penting dalam mempertahankan basis politik partai.
Memasuki Babak Politik Baru
Pemecatan Jems Tuuk menjadi salah satu dinamika terbaru di tengah proses pembenahan tersebut. Namun perjalanan menuju 2029 masih panjang.
Bagi PDIP Sulut, tantangan ke depan bukan hanya menjaga soliditas internal, tetapi juga mempertahankan hubungan dengan basis pemilih ketika konfigurasi kekuatan politik daerah mulai berubah.
Dengan konsolidasi yang dimulai sejak dini, PDIP Sulut tampaknya memilih tidak menunggu tahun politik tiba untuk menggerakkan mesin partai.
Pertarungan sesungguhnya masih beberapa tahun lagi. Namun langkah-langkah yang dilakukan hari ini akan menentukan seberapa kuat banteng Sulawesi Utara memasuki gelanggang politik 2029. *
