MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan komitmennya untuk menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai kekuatan untuk memperkuat identitas, menggerakkan ekonomi kreatif, sekaligus mengembangkan pariwisata daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE saat membuka Rona Budaya Sulawesi Utara Tahun 2026 di Museum Negeri Sulawesi Utara, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-62 Provinsi Sulawesi Utara ini menjadi ruang untuk merayakan kekayaan tradisi, adat istiadat, seni, serta nilai-nilai luhur yang terus hidup di tengah masyarakat.
Mengusung tema “Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas”, Rona Budaya Sulut 2026 mempertemukan tiga pilar kebudayaan utama Sulawesi Utara, yakni Nusa Utara, Minahasa Raya, dan Bolaang Mongondow Raya.
Menurut Gubernur Yulius, keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus terus dirawat dan dikembangkan. Karena itu, kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah atau sekadar menjadi simbol dalam berbagai perayaan.
“Kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu di dalam buku sejarah, melainkan benteng pertahanan jati diri serta mesin penggerak kemajuan daerah di masa depan,” ujar Gubernur Yulius.
Budaya Harus Memberi Dampak bagi Masyarakat
Gubernur Yulius menekankan bahwa pelaksanaan Rona Budaya harus memberikan manfaat yang nyata dan luas bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sebulan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai perayaan kebudayaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian Warisan Budaya Takbenda (WBTb), pemberdayaan ekonomi kreatif dan UMKM berbasis kebudayaan lokal, serta penguatan pariwisata berbasis budaya.
“Rona Budaya Sulawesi Utara harus mampu melestarikan Warisan Budaya Takbenda, memberdayakan ekonomi kreatif dan UMKM kebudayaan lokal, serta memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, kebudayaan diharapkan tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan mampu membuka ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni, pengrajin, pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga sektor pariwisata.
Tiga Pilar Budaya, Satu Identitas Sulawesi Utara
Rona Budaya Sulut 2026 menghadirkan beragam agenda yang merepresentasikan kekayaan budaya di Sulawesi Utara. Sejumlah kegiatan yang dijadwalkan antara lain Pekan Bataha Santiago, Pekan Maria Walanda Maramis, Pekan Adampe Dolot, hingga Pekan Keragaman Nusantara.
Beragam agenda tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi budaya sekaligus memperlihatkan bahwa keberagaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Sulawesi Utara.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga berkomitmen menjadikan Pekan Kebudayaan Daerah sebagai agenda resmi yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan ruang yang lebih terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan bagi pemajuan kebudayaan di Sulawesi Utara.
Memperkuat Harmoni dan Persatuan
Lebih dari sekadar festival, Rona Budaya 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat harmoni sosial dan persatuan masyarakat Sulawesi Utara.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sulawesi Utara, yakni “Sitou Timou Tumou Tou” dan “Torang Samua Basudara.”
Gubernur Yulius mengajak pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan daerah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembinaan pelaku seni, fasilitasi UMKM lokal, pengembangan ekonomi kreatif, serta integrasi nilai-nilai budaya ke dalam berbagai kebijakan pembangunan.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengenai bagaimana identitas dan nilai-nilai masyarakat tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Generasi Muda Jangan Kehilangan Akar
Pesan khusus juga disampaikan Gubernur Yulius kepada generasi muda Sulawesi Utara.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat, generasi muda didorong untuk terus mengikuti kemajuan zaman tanpa meninggalkan identitas budayanya.
“Jadilah generasi yang cerdas dan modern, namun tetap berakar kuat pada identitas leluhur kita,” pesannya.
Gubernur Yulius berharap seluruh masyarakat Sulawesi Utara dapat ikut menyukseskan Rona Budaya 2026 dengan rasa bangga dan gembira.
Baginya, kekayaan budaya Sulawesi Utara bukan hanya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, tetapi juga dapat menjadi kekuatan yang memperkenalkan daerah ini kepada Indonesia dan dunia.
“Tunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa Sulawesi Utara adalah daerah yang kaya, damai, berbudaya, dan selalu melangkah mantap menuju masa depan,” pungkas Gubernur Yulius.
