
Manado, Sulutpost – “Kerajaan” megah milik CK alias Charles, sang dewa mafia solar subsidi, tak hanya berdiri angkuh mengangkangi hukum, tapi kini mulai mengancam nyawa dan ketenangan warga.
Di balik tembok gudangnya yang berlokasi di Jalan Ringroad, aktivitas kotor penimbunan dan penyelundupan BBM ilegal ini terus beroperasi secara ugal-ugalan tanpa sedikitpun tersentuh aparat penegak hukum.
Raungan mesin truk-truk pembawa solar ilegal yang keluar-masuk gudang tanpa mengenal waktu kini memicu amarah warga sekitar yang sudah di ubun-ubun.
Keselamatan dan kenyamanan mereka dirampas paksa oleh kerakusan sang mafia.
“Kami warga di sini sudah sangat muak dan resah! Tiap hari siang malam truk-truk tangki besar milik CK keluar masuk bikin bising, jalanan rusak, dan debu di mana-mana. Yang paling kami takutkan, ini kan timbunan bahan bakar minyak ilegal, kalau sampai meledak atau kebakaran, rumah kami yang bakal rata dengan tanah! Apa aparat mau tunggu ada nyawa melayang dulu baru bertindak?” geram salah seorang warga sekitar Jalan Ringroad yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut mendapat intimidasi dari preman penjaga gudang.
Modus CK di kalangan pemain BBM gelap memang sudah tak asing lagi. Ia seolah memiliki kekebalan hukum.
Tanpa dilengkapi dokumen penebusan yang sah, komplotan CK secara leluasa menyedot paksa jatah solar subsidi dari sejumlah SPBU di Kota Manado.
BBM yang seharusnya dinikmati rakyat kecil itu kemudian ditimbun di “kerajaannya” sebelum diselundupkan dan dijual kembali ke wilayah Kota Bitung dengan harga selangit demi meraup untung miliaran rupiah.
Penderitaan warga ini sejalan dengan sorotan tajam dari berbagai pihak yang mencium adanya aroma kongkalikong.
“Aktivitas haram ini sudah berlangsung sejak lama. Pertanyaannya, apakah aparat penegak hukum di Sulut ini sengaja tutup mata, atau sudah ‘masuk angin’? Penelusuran kami di lapangan, kendaraan truk bebas keluar masuk, sampai truk tangki kepala biru berjejal di situ. Para sopir angkutan resmi pun sudah menjerit karena jatah BBM mereka dirampok komplotan ini. Kapolri dan Kapolda sudah ganti, sudah saatnya sapu bersih mafia ini sesuai arahan tegas Pak Presiden!” beber salah seorang praktisi hukum dengan nada geram, Kamis (1/10/2026) siang.
Sikap kebal hukum CK ini bukan isapan jempol semata. Bukti kejahatannya makin telanjang di depan mata publik.
Teranyar, dugaan armada distribusi BBM curian berupa kendaraan truk tangki berwarna Putih-Biru dengan bebasnya beroperasi melakukan aktivitas bongkar muat di kawasan Dermaga Singa Raja, Paceda, Kecamatan Madidir, Kota Bitung.
Rencananya, ribuan liter solar haram tersebut akan dimuat dan diselundupkan ke kapal KM Jaya Sentosa 89.Kini, warga yang resah menagih komitmen dan ketegasan aparat kepolisian untuk membongkar dan meratakan “kerajaan” mafia solar tersebut.
Mengingat, pucuk pimpinan kepolisian di Nyiur Melambai baru saja mengeluarkan ultimatum keras.
“Seperti perintah pimpinan, tidak ada ruang bagi aktivitas ilegal di Sulawesi Utara! Jika menemukan, langsung laporkan dan pasti akan kami tindak tegas tanpa pandang bulu,” janji Kapolda Sulut Irjen Pol. Yudo Hermanto, S.I.K., M.M melalui Dirkrimsus Kombespol FX Winardi belum lama ini.
Kini publik dan warga Ringroad menunggu: Akankah janji manis aparat ini terbukti dan CK diseret ke penjara, atau sang mafia dibiarkan terus menari-nari di atas penderitaan rakyat? Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak CK alias Charles maupun manajemen perusahaannya terkait rentetan tudingan serius dari warga dan praktisi hukum tersebut.
Namun sayang, upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat belum mendapat tanggapan resmi dari yang bersangkutan.
Kendati demikian, sebagai bentuk keberimbangan karya jurnalistik dan kepatuhan pada asas praduga tak bersalah, redaksi akan terus berupaya meminta klarifikasi dan membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi pihak CK untuk menjelaskan keabsahan dokumen serta status aktivitas di gudang Jalan Ringroad maupun operasional truk-truk mereka di Dermaga Singa Raja seperti yang selama ini disorot publik. (rds)
